Sastrawan Cyber Mendobrak Hegemoni
Pada mulanya adalah kejenuhan. Kejenuhan pada Hegemoni kekuasaan
media-massa cetak koran yang kebetulan punya halaman "sastra"
pada edisi hari Minggu-nya, yang sebenarnya tak lebih dari semacam
"sisipan after thought" atas keberadaan apa yang disebut
sebagai Sastra Indonesia Modern. Semacam sebuah "penebusan
dosa" media koran terhadap terpuruknya posisi dan reputasi
Sastra Indonesia di kampungnya sendiri. Hegemoni kekuasaan koran
dalam penentuan selera sastra para pembaca sastra modern berbahasa
Indonesia, pada saat yang bersamaan juga mempengaruhi bentuk dan
gaya produk sastra yang diciptakan, biasanya mengambil wujud
kasat-akibat dalam diri seorang redaktur budaya/sastra yang konon
terpilih atau sangat beruntung diberikan posisinya itu karena dia
dianggap "mampu bersastra". Atau mengerti soal sastra.
Hegemoni kekuasaan ini termanifes lewat "pilihan"
karya-karya sastra, apa itu puisi atau cerpen, yang "pantas"
terbit dan yang "pantas" tidak terbit. Bagi kasus
terakhir, syukur kalau dipulangkan ke pengirimnya. Hegemoni
kekuasaan ini karenanya sudah jadi tembok bencana karatan bagi
kebanyakan bakat-bakat muda yang seharusnya mendapat sedikit
dukungan untuk prospek masa depan karier sastranya, sudah jadi
begitu brengsek dan fascis makanya sudah sangat pantas untuk
dihancurkan jadi debu dan dibuang untuk tidak diingat lagi
selama-lamanya ke lobang wc umum terminal bis antar-kota di pulau
Jawa.



