Minggu, 20 Mei 2012

Re-Post : Sastrawan Cyber Mendobrak Hegemoni 


Sastrawan Cyber Mendobrak Hegemoni 

Pada mulanya adalah kejenuhan. Kejenuhan pada Hegemoni kekuasaan media-massa cetak koran yang kebetulan punya halaman "sastra" pada edisi hari Minggu-nya, yang sebenarnya tak lebih dari semacam "sisipan after thought" atas keberadaan apa yang disebut sebagai Sastra Indonesia Modern. Semacam sebuah "penebusan dosa" media koran terhadap terpuruknya posisi dan reputasi Sastra Indonesia di kampungnya sendiri. Hegemoni kekuasaan koran dalam penentuan selera sastra para pembaca sastra modern berbahasa Indonesia, pada saat yang bersamaan juga mempengaruhi bentuk dan gaya produk sastra yang diciptakan, biasanya mengambil wujud kasat-akibat dalam diri seorang redaktur budaya/sastra yang konon terpilih atau sangat beruntung diberikan posisinya itu karena dia dianggap "mampu bersastra". Atau mengerti soal sastra. Hegemoni kekuasaan ini termanifes lewat "pilihan" karya-karya sastra, apa itu puisi atau cerpen, yang "pantas" terbit dan yang "pantas" tidak terbit. Bagi kasus terakhir, syukur kalau dipulangkan ke pengirimnya. Hegemoni kekuasaan ini karenanya sudah jadi tembok bencana karatan bagi kebanyakan bakat-bakat muda yang seharusnya mendapat sedikit dukungan untuk prospek masa depan karier sastranya, sudah jadi begitu brengsek dan fascis makanya sudah sangat pantas untuk dihancurkan jadi debu dan dibuang untuk tidak diingat lagi selama-lamanya ke lobang wc umum terminal bis antar-kota di pulau Jawa.

Review : Azab dan Sengsara


RESENSI NOVEL


Judul Buku      : Azab dan Sengsara
Karya              : Merari Siregar
Penerbit           : Balai Pustaka
Cetakan Ke-     : XVII
Tahun Terbit     : 2000
Angkatan         : 20-An
Tebal Buku      : 163 Halaman
Harga buku      : -
Genre              : Roman
RESENSI
Novel AZAB DAN SENGSARA ini merupakan novel pertama terbitan BALAI PUSTAKA. yaitu sekitar tahun 1920. Novel yang bertemakan kawin paksa ini dikarang oleh Merari Siregar. Sepertinya penulis sangat menonjolkan suatu kesengsaraan dalam karyanya ini, sehingga si pembaca dapat terbawa oleh alur cerita ini. Penulis juga mengangkat adat istiadat yang berlaku di daerahnya.
Keunggulan buku ini diantaranya penulis dalam ceritanya mengutamakan penonjolan-penonjolan tokoh-tokoh yang lemah dan tunduk terhadap orang-orang yang berhati kotor. Hal ini cukup mengundang simpati pembaca sehingga pembaca dapat merasa terharu.
Dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, penggambaran hubungan manusia dalam kehidupan bermasyarakat sangat jelas. Hubungan sosial tersebut meliputi sikap tolong-menolong, saling menghargai dan menghormati sesama manusia, peraturan-peraturan adat dalam pernikahan, dan sebagainya.
Sikap tolong-menolong terlihat ketika Aminuddin menolong Mariamin yang terjatuh di sungai. Saat itu, keduanya sedang meniti jembatan untuk menyeberangi sungai, namun naas bagi Mariamin karena terjerumus masuk sungai yang arusnya deras. Dengan sigap, Aminuddin melompat hendak menolong Mariamin. Sikap yang digambarkan oleh Aminuddin ini merupakan sikap yang mencerminkan hubungan sosial yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Sabtu, 19 Mei 2012

Karangan

Nama                  : Novia Rochmawati
NIM                    : 13010111130048
Jurusan               : Sastra Indonesia
Mata Kuliah         : Penyuntingan / Editing

Antara Guci, Saya dan Allah

Novia Rochmawati, itulah nama yang diberikan orang tua saya pada saya. Lahir di sebuah desa yang bernuansa islami, saya pun tak luput dari pendidikan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Selama empat tahun saya memepelajari cara membaca Alqur’an mulai dari tajwid, ghorib dan lain sebagainya. Dan hingga saat pertengahan kelas 5 SD/MI, saya berhasil mengkhatamkan pendidikan saya ini. Namun banyak kisah yang saya alami selama menuntut ilmu di TPA. Salah satunya kisah berikut ini yang kemudian dapat menjadi pembelajaran bagi kehidupan saya selanjutnya.

Kisah ini dimulai ketika saya memasuki kelas 2 SD/MI. karena pada waktu itu di madrasah saya kelas 2 masuk pada waktu siang hari, maka pembelajaran di TPA pun dimulai pagi hari. Sekitar pukul 06.00 WIB saya sudah bersiap dan berangkat ke TPA bersama kedua sahabat saya, Santi dan Isma. Pukul 07.30 WIB kami telah menyelesaikan tugas kami untuk mendalami ilmu membaca Al-qur’an. Perjalanan pulang kami pun menjadi amat seru. Setiap pulang kami bertiga selalu menyempatkan diri utnuk sejenak mampir ke kolam keramat di kompleks Masjid Jami’ Desa Wonoyoso, desa kami tercinta. Kami percaya dengan mitos yang beredar, bahwa siapapun yang dapat meraih atau memegang guci yang berada di tengah kolam yang mempunyai lebar 2,5 meter tersebut, maka besok jikalau ulangan akan memeperoleh nilai 100. Karena itu kami percaya, lalu kami membuktikan. Dan kami pun semakin percaya karena kamilah buktinya. Setiap kami bisa menyentuh guci tersebut, besoknya kami mendapatkan nilai 100.


Analisa Cerpen

TUGAS ANALISA CERITA PENDEK (CERPEN)
“SANG PEMIMPIN”
Karya : Sori Siregar
Oleh : Novia Rochmawati


A.     Sinopsis Cerita

Karim yang lima tahun menghilang dari kompleks pemukiman, tiba-tiba muncul bersama keluarganya. Konon, selama ini dia bersekolah di Selandia Baru dan mendapat gelar yang sukar diingat oleh warga di kompleksnya. Karena gelar tersebut memakai bahasa Inggris dan jarang dibicarakan di kalangan warga yang rata-rata pendidikannnya tidak tinggi. 

Dengan gelar barunya itu, wajar sekali kalau Karim menganggap dirinya sebagai orang yang paling pintar di kompleks. Seluruh kompleks juga bangga karena ada di antara warganya yang menggunakan gelar sekolah tinggi, dengan memakai bahasa Inggris pula. Persatuan Warga Kompleks (PWK) tanpa ragu-ragu segera mengangkatnya sebagai ketua. Kosim ketua yang sedang menjabat denagan senang hati melepas jabatannya dan menyerahkannya pada Karim.

Belakangan, tanpa sadar kekaguman kelima teman Karim semasa tiga tahun di SMP, tokoh Saya, Bokar, Zaini, Djohan dan Lahmdin pada Karim semakin meningkat. Kefasihan bicaranya benar-benar memesona. Terkadang mereka yang oleh Karim diangkat menjadi pelindung tetap juga mengangguk, walaupun mereka sadar yang diucapkan Karim hanya bualan belaka.

Mereka berlima pun lantas semakin sadar dan mulai megungkapkan kelu kesahnya terhadap karim yang hanya omong saja. Tanpa ada tindakannnya sama sekali. Mereka pun merasa jikalau Karim telah memanfaatkan mereka untuk bekerja. Namun masyarakat melihat Karim seolah-olah yang menjadikan acara-acara di kampong sukses, padahal itu pekerjaan kelima temannya. Jika disuruh untuk maju ke depan untuk ceramah ataupun berpidato dia langsung menyambar, tetapi untuk pekerjaan seperti kerja bakti ia langsung cepat-cepat pergi dengan alasan bekerja padahal hari minggu.

Semakin lama seluruh warga kompleks pun menagih segala janji-janji manis Karim lewat kelima pelindungnya itu. Namun pelindung itu pun nampaknya tidak dapat membela Karim karena memang yang dilakukan Karim telah kelewat batas. Karim pun marah dan merekaberlima hanya bisa melihat Karim berbicara, karena memang itu satu-satunya kemampua yang ia miliki.

FIB Undip ber-Sanubari Jakarta

FIB Undip ber-Sanubari Jakarta

Oleh : Novia Rochmawati

Cuaca cerah yang menyelimuti Tembalang sore, 11 mei 2012 semakin menambah semangat para mahasiswa FIB Undip untuk berbondong-bondong menuju ruang A.3.11. sekitar pukul 15.40 suasana lobi lantai tiga telah penuh sesak oleh gerombolan mahasiswa dan deretan kursi yang sebelumnya telah disterilkan dari ruangan yang akan digunakan untuk penyelenggaraan acara pemutaran film kontroversial tersebut. Para mahasiswa pun sudah tak sabar menunggu untuk memasuki ruangan yang sebelumnya telah disulap bak bioskop kampus itu.

Jila(19), mahasiswi Sastra Indonesia yang saya temui sebelum pemutaran film tersebut mengungkapkan dirinya sudah tak asing dengan film ini. Meskipun ia belum pernah menontonnya namun dia lumayan mengerti dengan seluk beluk dan kontroversi yang ditimbulkan oleh film ini. “di akhir trailernya ada omongan yang menjijikan, isep aku dong … !”, tutur Jila sembari menikmati Milk Tea merek terkemuka. Mahasiswi yang juga merupakan panitia pemutaran film ini pun menceritakan film-film pendek yang ada dalam film tersebut, mulai dari pemainnya yang sebagian merupakan artis-artis papan atas Indonesia seperti Pevita Pearce, Dinda Kanyadewi dan lain sebagainya, serta sinopsis dan bagian yang menarik dri tiap filmnya. Dia pun tak sabar untuk segera melihat pemutaran film yang mengundang kontroversial tersebut.

Registrasi peserta pun dimulai dan peserta dipersilahkan masuk. sempat ada miss komunikasi antara panitia dan peserta, ada beberapa peserta dari luar kampus FIB yang dipersilahkan meninggalkan ruang pemutaran film tersebut dikarenakan acara tersebut hakikatnya diselenggarakan untuk anak FIB saja. Namun pada akhirnya mahasiswa non-FIB pun dipersilahkan masuk karena adanya kebijakan dari penyelenggara. Tak lama sekitar pukul 16.00 para pemain, crew dan sutradara memasuki ruangan, dan hiruk pikuk tepuk tangan terdengar menggaung di ruangan. Dibuka oleh pasangan duo MC Beta dan partnernya, rangkaian acara film yang sebelumnya sempat dicekal oleh rektor dan pembantu rektor tiga di FISIP Undip ini akhirnya dimulai. Setelah duo MC tersebut menyapa, Dimas salah satu sutradara sekaligus aktor dalam salah satu komikus film itupun memberikan sambutan dan langsung memulai mengantarkan pemutaran film tersebut.

Selasa, 10 Januari 2012

try to loving it :D

pernah terbesit dalam benak ku tuk meninggalkan pilihan ini pilihan yang ku rasa benar-benar salah pilihan yang aku pilih secara terpaksa pilihan yang tak sesuai dengan hati nurani ini namun, ku sadari semua adanya nasi memang telah menjadi bubur yang harus ku lakukan saat ini hanyalah satu ...... mengubah pilihan yang salah ini menjadi pilihan yang benar-benar tepat pilihan yang benar-benar ku jalani sepenuh hati pilihan yang dapat membuat aku mencintainya dan mencintai kalian semua love you all SASINDO 2011 :D